#anak kos
#efek mie instan
Menyeimbangkan Gaya Hidup dan Pola Makan sebagai Mahasiswa,
Bagaimana Caranya?
Sore hari pada pukul 17.00 WIB rintikan
hujan menjadi teman saya makan indomie sambil menonton drama korea. Tiba-tiba
teringat pesan orang tua, untuk tidak makan mie terlalu sering. Iseng-iseng download
apk Alodokter di playstore. Disitu saya memulai percakapan mengenai seringnya
mengonsumsi mie instan.
"Pada dasarnya konsumsi makanan
instan seperti mie dan makanan lainnya tidak apa-apa, asalkan tidak dikonsumsi
secara berlebihan dan terus menerus. Hal ini dikarenakan mie instan tidak
banyak kandungan nutrisinya dan mengandung penyedap rasa" kata dr.shinta
rispasari.
"walaupun masih termasuk kategori
aman, namun alangkah baiknya dipenuhi juga dengan makanan bernutrisi seperti
protein, sayuran dan buah" tambahnya.
Teringat almarhumah teman saya yang meninggal
karena maag akut, katanya disebabkan sering makanan yang instan. Dengan rasa
penasaran saya bertanya kepada dokter "kira-kira penyakit apa saja yang ditimbulkan dari
konsumsi makanan instan berlebihan ya dok".
dr.shinta mengatakan mengonsumsi secara
berlebihan bisa mengakibatkan gangguan lambung,
kegemukan, penyakit diabetes melitus, hipertensi dan jantung ya.
dr.shinta menyarankan untuk menyeimbangkan asupan makanan dan tetap memilih
makanan yang sehat.
Semakin
maju kecanggihan teknologi, semakin berpengaruh pula pada perkembangan zaman.
Zaman sekarang ini, kita dituntut untuk melakukan apapun serba cepat. Termasuk
perkara perut, sebagai seorang mahasiswa Rita kadang lebih memilih makanan instan agar tidak
membuang-buang waktu. Pernah sampai dirawat dua kali karena setiap hari sarapan
mie instan. "Pernah sampai rawat inap karena infeksi di usus, pernah obat
jalan juga", ujar Rita.
Sekarang ia masih mengonsumsi
makanan instan tiga sampai empat kali seminggu, tidak hanya mie instan, sosis
dan nugget.
Dia
mengatakan , “Alasan tetap mengonsumsi untuk membeli
tas dll. Saat
ini saya menghemat untuk ongkos main dan modal
usaha", tutur Rita.
Tak
dipungkiri, mengenyam bangku kuliah di universitas swasta membuatnya boros untuk mengikuti trend
dan gaya hidup. Berbekal uang saku Rp 800-
1 juta/bulan, beginilah kreativitas mahasiswa dipertaruhkan.
Berbeda
dengan annisa Mahasiswa FKIP Berhemat menjadi pilihannya. Berbekal saku Rp 800
ribu, ia harus pandai-pandai mengatur keuangan. Sebagai mahasiswa Makanan
instan menjadi andalannya, disamping harganya murah mie instan juga praktis.
“Gaya
hidup dan kebutuhan skincare,
sebagai faktor lain saya berhemat”
tutur Anisa. “Mengingat sebagai
remaja kita harus menjaga penampilan,untuk
menjaga kesehatan dari makanan instan saya
mengimbangi dengan buah dan sayuran,”
tambahnya.
Makanan
sebagai asupan pokok kebutuhan manusia tentu harus diperhatikan khususnya
mahasiswa rantau. Jauh dari keluarga dan tugas kuliah yang banyak membuat
mereka memilih makanan siap saji.
“Saya
lebih memilih makanan siap saji, terkadang tugas menumpuk dan tidak sempat
keluar kos, kata Karina mahasiswa manajemen.
Berbeda
dengan anisa karina lebih memilih mementingkan isi perut dibandingkan gaya
hidup. Dia mengatakan “sering pusing kepala kalau makannya telat,biasanya habis
makan masih jajan pinggir jalan seperti cimol,cilok,bakso, serta makanan ringan lainnya.”
“Aku mah nggak terlalu memikirkan gaya hidup
emang bener sih aku kuliah di lingkungan yang notabennya menegah keatas apalagi
anak kampus 2 sangat terkenal dengan fashionnya tapi aku nggak terlalu peduli
sihh uangnya dijatah 30 rb buat makan” tambahnya.
No comments:
Post a Comment