Tuesday, December 24, 2019

Liputan Khusus


 #anak kos
#efek mie instan

Menyeimbangkan Gaya Hidup dan Pola Makan sebagai Mahasiswa, 
Bagaimana Caranya?

Sore hari pada pukul 17.00 WIB rintikan hujan menjadi teman saya makan indomie sambil menonton drama korea. Tiba-tiba teringat pesan orang tua, untuk tidak makan mie terlalu sering. Iseng-iseng download apk Alodokter di playstore. Disitu saya memulai percakapan mengenai seringnya mengonsumsi mie instan.

"Pada dasarnya konsumsi makanan instan seperti mie dan makanan lainnya tidak apa-apa, asalkan tidak dikonsumsi secara berlebihan dan terus menerus. Hal ini dikarenakan mie instan tidak banyak kandungan nutrisinya dan mengandung penyedap rasa" kata dr.shinta rispasari.

"walaupun masih termasuk kategori aman, namun alangkah baiknya dipenuhi juga dengan makanan bernutrisi seperti protein, sayuran dan buah" tambahnya.
 Teringat almarhumah teman saya yang meninggal karena maag akut, katanya disebabkan sering makanan yang instan. Dengan rasa penasaran saya bertanya kepada dokter "kira-kira  penyakit apa saja yang ditimbulkan dari konsumsi makanan instan berlebihan ya dok". 

dr.shinta mengatakan mengonsumsi secara berlebihan bisa mengakibatkan gangguan lambung,  kegemukan, penyakit diabetes melitus, hipertensi dan jantung ya. dr.shinta menyarankan untuk menyeimbangkan asupan makanan dan tetap memilih makanan yang sehat.

Semakin maju kecanggihan teknologi, semakin berpengaruh pula pada perkembangan zaman. Zaman sekarang ini, kita dituntut untuk melakukan apapun serba cepat. Termasuk perkara perut, sebagai seorang mahasiswa Rita kadang lebih memilih makanan instan agar tidak membuang-buang waktu. Pernah sampai dirawat dua kali karena setiap hari sarapan mie instan. "Pernah sampai rawat inap karena infeksi di usus, pernah obat jalan juga", ujar Rita. 

Sekarang ia masih mengonsumsi makanan instan tiga sampai empat kali seminggu, tidak hanya mie instan, sosis dan nugget.
Dia mengatakan , “Alasan tetap mengonsumsi untuk membeli tas dll. Saat ini saya menghemat untuk ongkos main dan modal usaha", tutur Rita. 

Tak dipungkiri, mengenyam bangku kuliah di universitas swasta membuatnya boros untuk mengikuti trend dan gaya hidup. Berbekal uang saku Rp 800- 1 juta/bulan, beginilah kreativitas mahasiswa dipertaruhkan. 

Berbeda dengan annisa Mahasiswa FKIP Berhemat menjadi pilihannya. Berbekal saku Rp 800 ribu, ia harus pandai-pandai mengatur keuangan. Sebagai mahasiswa Makanan instan menjadi andalannya, disamping harganya murah mie instan juga praktis. 

“Gaya hidup dan kebutuhan skincare, sebagai faktor lain saya berhemat” tutur Anisa. “Mengingat  sebagai remaja kita  harus menjaga penampilan,untuk menjaga kesehatan dari makanan instan saya mengimbangi dengan buah dan sayuran,” tambahnya.
Makanan sebagai asupan pokok kebutuhan manusia tentu harus diperhatikan khususnya mahasiswa rantau. Jauh dari keluarga dan tugas kuliah yang banyak membuat mereka memilih makanan siap saji.

“Saya lebih memilih makanan siap saji, terkadang tugas menumpuk dan tidak sempat keluar kos, kata Karina mahasiswa manajemen.
Berbeda dengan anisa karina lebih memilih mementingkan isi perut dibandingkan gaya hidup. Dia mengatakan “sering pusing kepala kalau makannya telat,biasanya habis makan masih jajan pinggir jalan seperti cimol,cilok,bakso, serta makanan ringan lainnya.”

“Aku mah nggak terlalu memikirkan gaya hidup emang bener sih aku kuliah di lingkungan yang notabennya menegah keatas apalagi anak kampus 2 sangat terkenal dengan fashionnya tapi aku nggak terlalu peduli sihh uangnya dijatah 30 rb buat makan” tambahnya.

No comments:

Post a Comment

Opini Pendidikan