Tuesday, December 24, 2019

Opini Pendidikan


#Opini


# Pendidikan

# pendidikananak

 

 Guru Sang Pemberdaya “Ekosistem”

 
Seno Ilustrasi
   
Novel anak karya Tetsuko Kuroyanagi, berkisah tentang anak yang memiliki rasa ingin tau sangat besar. Dia terus berusaha sampai mendapatkan kepuasaan. Suatu saat guru beranggapan bahwa Totto-Chan anak yang nakal dan sulit diatur, sampai akhirnya dia dikeluarkan dari sekolah formalnya. Hal ini sebenarnya guru tidak mengerti bagaimana cara memperlakukan anak seperti Totto-chan, tidak seperti mamanya yang begitu memahaminya. 
 
Toto-chan pindah sekolah baru, dia akan diterima syaratnya harus menceritakan tentang dirinya dan kesukaannya. Peraturan sekolah dibuat seperti apa yang ia rasakan, sebagai bentuk rasa peduli dan cinta pendidikan. Pembelajaran tidak diprogramkan, namun anak-anak bebas mempelajari pelajaran kesukaan dengan harapan anak didiknya dapat menjadi ahli ilmu tertentu dan melihat bakat mereka sejak kecil. Sekolah tersebut tidak memaksa untuk mempelajari semua pelajaran yang tidak disenanginya. 

Arah Pendidikan Indonesia
Anak –anak memang tidak pernah bagus dibandingkan mendengarkan yang lebih tua, namun mereka tidak pernah gagal untuk meniru mereka (James Baldwin). Kekerasan di Lingkungan sekolah saat ini berdasarkan data KPAI semester pertama 2019, terdapat 13 kasus kekerasan seksual. Kasus siswa berani pada guru juga tak jarang ditemukan di sekolah.Mengapa hal ini terjadi?

  • Mungkin....Orang tua percaya sepenuhnya cukup di sekolah saja semua paket kehidupan bisa   didapat.
  • Mungkin.... Masalah sopan santun, ntar bakal ngerti sendiri 
  • Mungkin.... gak tau cara mengatasinya. Karena memang tidak ada sekolah sopan santun. 


     Mengapa mereka seperti itu?
Mereka adalah produkmu, mereka cetakanmu, dan mereka adalah hasil cerminan orang tua. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar dalam lingkungan keluarga sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Orang tua sebagai pendidik utama anak harus memberikan gambaran yang baik, sekali melihat maka sekali dia merekam dan akan membekas seutuhnya. Mendidik anak adalah proses sekali jalan, tidak bisa diulang, tidak bakal nambah besar atau kecil. 

Memberi kebebasan anak berekspresi
Orang tua seringkali memaksa anak untuk berprestasi juara di kelasnya, memaksanya untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Proses pembelajaran di sekolah anak dituntut menguasai semua mata pelajaran, jika tidak nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Hal ini membuat anak terikat pada aturan- aturan yang ada, merasa terbebani, dan sulit mengekplore dirinya. 

Ada anak hobinya menggambar, sehari dia mampu menggambar lebih dari tiga kali, kok bisa? Karena anak dibolehkan memilih aktifitas yang dia senangi. Tak ada alasan melarang anak berkreasi, berimajinasi, bereksperimen, itulah dunia mereka yang harus diantarkan dengan kebebasan bereksplorasi untuk mewujudkan impiannya. 

Guru sebagai Sang Pemberdaya Ekosistem dituntut menjadi teladan yang baik. Urgensi pendidik diibaratkan sebuah pohon, oksigen sebagai penyongkong kehidupan dan akar mencegah tanah longsor, sejalan dengan fungi guru sebagai kontrol sosial bagi murid-muridnya. 
 

Dilansir dalam Instagram 11/12/2019 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengumumkan UN akan resmi ditiadakan mulai 2021, penilaian akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. 

Nadiem mengatakan UN selama ini dinilai banyak bermasalah, cenderung membuat orang tua, guru, siswa stres, dan hanya menilai satu aspek saja yakni kognitif. Terkait hal ini melalui Permendikbud Nomor 43 tahun 2019 tentang Ujian Sekolah dan Ujian Nasional, Mendikbud Nadiem Makarim menetapkan syarat kelulusan siswa. Pertama, Menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Kedua, Memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik. Ketiga, mengikuti ujian yang diselenggarakan pendidikan.
 
Sementara itu, Ubaid menjelaskan, hasil penelitian menunjukkan, lingkungan sekolah di Indonesia belum ramah anak. Hal ini terlihat masih maraknya kekerasan di sekolah, baik fisik maupun bukan fisik. Yakni, penganiayaan guru terhadap siswa, siswa terhadap guru, sesama siswa wali murid kepada guru, pelecehan seksual dan tawuran antarsekolah.

Dari sinilah Nadiem Makarim mulai mengubah dunia pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pendidikan karakter. Apa pun zamannya, kurikulumnya pendidikan karakter harus dipelihara dengan kasih sayang. Ketika ada rasa nyaman di sekolah, pendidikan pun berlangsung damai.

Jadilah guru bukan hanya sekedar tranfer pengetahuan, karena akan ada masanya anda tidak dibutuhkan karena syaikh Google lebih cerdas dan lebih tau banyak hal. Namun jadilah guru yang juga mentranfer adab, akhlaq, ketaqwaan, dan keikhlasan agar anda selalu dibutuhkan karena Google tak memiliki semua itu.


No comments:

Post a Comment

Opini Pendidikan