#Opini
# Pendidikan
# pendidikananak
Guru Sang Pemberdaya “Ekosistem”
![]() |
| Seno Ilustrasi |
Novel anak karya Tetsuko Kuroyanagi, berkisah tentang
anak yang memiliki rasa ingin tau sangat besar. Dia terus berusaha sampai
mendapatkan kepuasaan. Suatu saat guru beranggapan bahwa Totto-Chan anak yang
nakal dan sulit diatur, sampai akhirnya dia dikeluarkan dari sekolah formalnya.
Hal ini sebenarnya guru tidak mengerti bagaimana cara memperlakukan anak
seperti Totto-chan, tidak seperti mamanya yang begitu memahaminya.
Toto-chan pindah sekolah baru, dia akan diterima syaratnya
harus menceritakan tentang dirinya dan kesukaannya. Peraturan sekolah dibuat
seperti apa yang ia rasakan, sebagai bentuk rasa peduli dan cinta pendidikan.
Pembelajaran tidak diprogramkan, namun anak-anak bebas mempelajari pelajaran
kesukaan dengan harapan anak didiknya dapat menjadi ahli ilmu tertentu dan
melihat bakat mereka sejak kecil. Sekolah tersebut tidak memaksa untuk
mempelajari semua pelajaran yang tidak disenanginya.
Arah Pendidikan Indonesia
Anak –anak memang tidak pernah bagus dibandingkan
mendengarkan yang lebih tua, namun mereka tidak pernah gagal untuk meniru
mereka (James Baldwin). Kekerasan di Lingkungan sekolah saat ini berdasarkan
data KPAI semester pertama 2019, terdapat 13 kasus kekerasan seksual. Kasus
siswa berani pada guru juga tak jarang ditemukan di sekolah.Mengapa hal ini
terjadi?
- Mungkin....Orang tua percaya sepenuhnya cukup di sekolah saja semua paket kehidupan bisa didapat.
- Mungkin.... Masalah sopan santun, ntar bakal ngerti sendiri
- Mungkin.... gak tau cara mengatasinya. Karena memang tidak ada sekolah sopan santun.
Mengapa mereka seperti itu?
Mereka adalah produkmu, mereka cetakanmu, dan mereka
adalah hasil cerminan orang tua. Apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar
dalam lingkungan keluarga sangat berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Orang
tua sebagai pendidik utama anak harus memberikan gambaran yang baik, sekali
melihat maka sekali dia merekam dan akan membekas seutuhnya. Mendidik anak
adalah proses sekali jalan, tidak bisa diulang, tidak bakal nambah besar atau
kecil.
Memberi kebebasan anak berekspresi
Orang tua seringkali memaksa anak untuk berprestasi
juara di kelasnya, memaksanya untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Proses
pembelajaran di sekolah anak dituntut menguasai semua mata pelajaran, jika
tidak nilai dibawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Hal ini membuat anak
terikat pada aturan- aturan yang ada, merasa terbebani, dan sulit mengekplore
dirinya.
Ada anak hobinya menggambar, sehari dia mampu
menggambar lebih dari tiga kali, kok bisa? Karena anak dibolehkan memilih
aktifitas yang dia senangi. Tak ada alasan melarang anak berkreasi,
berimajinasi, bereksperimen, itulah dunia mereka yang harus diantarkan dengan
kebebasan bereksplorasi untuk mewujudkan impiannya.
Guru sebagai Sang Pemberdaya Ekosistem dituntut
menjadi teladan yang baik. Urgensi pendidik diibaratkan sebuah pohon, oksigen
sebagai penyongkong kehidupan dan akar mencegah tanah longsor, sejalan dengan
fungi guru sebagai kontrol sosial bagi murid-muridnya.
Nadiem mengatakan UN
selama ini dinilai banyak bermasalah, cenderung membuat orang tua, guru, siswa
stres, dan hanya menilai satu aspek saja yakni kognitif. Terkait hal ini
melalui Permendikbud Nomor 43 tahun 2019 tentang Ujian Sekolah dan Ujian
Nasional, Mendikbud Nadiem Makarim menetapkan syarat kelulusan siswa.
Pertama, Menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Kedua, Memperoleh nilai
sikap/perilaku minimal baik. Ketiga, mengikuti ujian yang diselenggarakan
pendidikan.
Dilansir dalam Instagram 11/12/2019 Menteri Pendidikan
dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengumumkan UN akan resmi ditiadakan mulai 2021,
penilaian akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
Sementara itu, Ubaid menjelaskan, hasil penelitian
menunjukkan, lingkungan sekolah di Indonesia belum ramah anak. Hal ini terlihat
masih maraknya kekerasan di sekolah, baik fisik maupun bukan fisik. Yakni,
penganiayaan guru terhadap siswa, siswa terhadap guru, sesama siswa wali murid
kepada guru, pelecehan seksual dan tawuran antarsekolah.
Dari sinilah Nadiem Makarim mulai mengubah dunia
pendidikan di Indonesia dengan memperkuat pendidikan karakter. Apa pun
zamannya, kurikulumnya pendidikan karakter harus dipelihara dengan kasih
sayang. Ketika ada rasa nyaman di sekolah, pendidikan pun berlangsung damai.
Jadilah guru bukan hanya sekedar tranfer pengetahuan,
karena akan ada masanya anda tidak dibutuhkan karena syaikh Google lebih cerdas
dan lebih tau banyak hal. Namun jadilah guru yang juga mentranfer adab, akhlaq,
ketaqwaan, dan keikhlasan agar anda selalu dibutuhkan karena Google tak
memiliki semua itu.

No comments:
Post a Comment