Sinopsis Hari-hari Omong Harmoko
https://youtu.be/ih8vcQWrz1
Pada 1992 diusia 25 tahun Akhmad Kusaeni ditugaskan kantor berita Antara untuk meliput kegiatan Menteri Penerangan Harmoko yang juga baru diangkat sebagai Ketua Umum Golkar. setiap sabtu dan minggu selama dua tahun Akhmad Kusaeni mengikuti Harmoko keliling Indonesia untuk melakukan apa yang ketika itu disebut temu kader. Harmoko di zamannya adalah bintang media. Setiap hari koran dan televisi memberitakan aktivitasnya baik sebagai Menteri Penerangan maupun Ketua Umum Golkar. Harmoko menjadi Menteri Penerangan tiga periode antara 1983-1997. Ditangannyalah surat ijin penerbitan pers dikeluarkan atau dibatalkan. Inilah yang menentukan hidup mati media masa kala itu. Tercatat setidaknya ada 13 media masa yang dicabut surat izinnya pada periode 14 tahun kepemimpinan Harmoko di Departemen Penerangan.
Seusai pemilihan umum 1992 Soeharto menunjuk Harmoko sebagai orang sipil pertama yang menjadi Ketua Umum Golkar. Aksi panggungnya menyumbang peningkatan suara Golkar dari 60% pada pemilu 1992 menjadi 75% ditahun 1997 tentu saja dengan banyak catatan pada praktek mobilisasi politik dimasa itu. Dari hasil keliling Indonesia ini Harmoko meyakinkan Soeharto bahwa rakyat masih menginginkannya sebagai Presiden Republik Indonesia untuk periode yang ke 7. Kelompok capir atau kelompok pendengar, pembaca dan pirsawan adalah kompetisi adu pengetahuan tentang pertanian, perikanan, peternakan atau program pembangunan yang populer di era 1980-1990an dan Harmoko adalah icon dalam acara-acara ini. meski loyalitasnya sebagai penjaga pers razim orde baru tak diragukan pada pertengahan tahun 1997 Soeharto tiba-tiba mengakhiri 3 periode kekuasaan Harmoko di Departemen Penerangan. Ia menduduki jabatan sebagai Menteri Negara Urusan Khusus sebuah kementerian baru tak jelas benar apa tugas dan fungsinya. Namun tak lama kemudian di akhir 1997 Soeharto menujuk bekas pembantunya yang loyal itu sebagai DPR yang menjadikannya setara dengan Presiden sebagai lembaga tinggi negara setidaknya sebagai teori.
Tak ada yang menyangka bahwa palu sidang yang patah ditangan Harmoko saat penutupan paripurna ke 5 Maret 1998 menjadi lebih buruk dua bulan berikutnya. Dan pada suatu titik tikungan sejarah inilah Harmoko membuat keputusan dan memilih jalannya sendiri. Suharto tak punya pilihan rakyat mengamuk jalanan rusuh, tentara terbelah , 14 menteri mundur dan kini bekas pembantunya sendiri. Bersama runtuhnya orzim orde baru Harmoko yang pernah sekolah dalang di Solo menghilang dari pandangan publik hingga suatu hari ia mengizinkan kameramen melihat apa yang sedang dilakukannya kini. Aktivitanya kini tak selincah dulu tapi setiap hari senin dan kamis Harmoko masih rutin menulis untuk korannya pos kota di rubrik kopi pagi. Tapi bagi mereka yang pernah dibredel humor-humor Harmoko tak cukup membuat orang tertawa. 21 Juni 1994 tiga media tempo, editor, dan detik dibrangus tanpa alasan yang jelas. Padahal ketika baru dilantik menteri penerangan pada 1983 di depan para koleganya bersama wartawan Harmoko pernah berujar bahwa dirinya tak akan membredel media masa. Baik pada penutupan tempo, editor dan detik 1994 maupun pembredelan sinar harapan tahun sebelumnya Harmoko sebagai menteri penerangan yang merangkap ketua dewan pers menyatakan bahwa keputusan ini bukan ditangannya.
Sekian Terimakasih.
By Eva Nur Handayani
A310160164